Ngempani Iwak

    0
    630
    outbond
    Salah satu kegiatan outdor murid Sdit Khoiro Ummah

    Tadi pagi anak-anak Sdit Khoiro Ummah Purwokerto berangkat ke Taman Balai Kemambang dengan menyewa beberapa angkot untuk melaksanakan kegiatan outbond. Suatu kegiatan outdoor yang bisa dibilang paling disukai oleh anak-anak Khoiro Ummah. Di taman itu anak-anak mengikuti permainan game dan simulasi di bawah bimbingan para ustadz dan ustadzah, termasuk saya yang sedang nulis artikel ini.

    Perlu diketahui, bahwa di Taman Balai Kemambang ada salah satu kegiatan yang sayang untuk dilewatkan oleh para pengunjungnya, yaitu kegiatan ngempani iwak. Apa itu ngempani iwak? Bagi orang jawa terutama warga Banyumas yang biasa ngomong ngapak pasti sudah paham makna ngempani iwak. Tapi bagi anda yang bukan orang jawa ngapak kemungkinan belum mengenal istilah ‘ngempani’ ini.

    Ngempani iwak maksudnya memberi makan ikan. Jadi kita di sana bisa memberi makan ikan-ikan dengan pelet yang sudah disiapkan. Kegiatan ini sungguh mengasyikkan dan membuat anak-anak tertawa renyah yang mengisyaratkan bahwa mereka sangat menyukai kegiatan itu.

    Sebenarnya kalau kita lebih teliti dalam memandang kegiatan ngempani iwak ini, ternyata ada nilai filosofi yang menarik untuk disampaikan ke anak-anak, sebagai salah satu langkah penanaman nilai akhlakul karimah.

    Mengapa anak-anak sangat senang melakukan kegiatan ngempani iwak? Bahkan bertambah girang setelah melihat ikan-ikan saling berebut makanan. Padahal kegiatan ngempani iwak akan menghabiskan persediaan pelet yang mereka bawa. Dan menurut logika, mereka seharusnya bersedih karena memberikan sesuatu yang mereka punya pada ikan-ikan itu, apalagi untuk mendapatkan pelet yang disediakan oleh pengelola taman harus dibeli dengan uang saku mereka.

    Kenyataannya mereka bukannya bersedih, justru merasa senang setelah memberi makanan pada ikan-ikan itu.

    Itulah salah satu gambaran indahnya sedekah. Dengan memberi, akan membuat rasa bahagia, baik bagi sang pemberi ataupun sang penerima. Anak-anak itu merasa senang setelah memberi pelet pada ikan-ikan di kolam. Dan seandainya kita paham bahasa hewan, saya yakin ikan-ikan itu juga merasa senang karena telah diberi makanan. Namun tanpa mengetahui bahasa hewan pun kita tahu bahwa mereka (ikan-ikan itu) juga merasa senang, terbukti mereka saling berebut dan berloncatan ketika dilempari pelet oleh anak-anak Sdit Khoiro Ummah.

    Mengapa anak-anak bisa merasa senang ketika sesuatu yang mereka miliki diberikan pada yang lain? Kuncinya ada pada satu hal, yaitu keikhlasan. Dalam hal ini anak-anak telah mampu berbuat ikhlas sehingga memunculkan rasa senang di hati. Dan perasaan senang itu kian bertambah setelah melihat bahwa apa yang mereka berikan itu benar-benar dibutuhkan oleh si penerima (ikan).

    Kita pun demikian, ketika kita mampu berbuat ikhlas dalam memberi, niscaya akan datang rasa bahagia di hati. Dan kebahagiaan itu makin meng- atsar di hati ketika menyadari bahwa orang yang kita beri benar-benar membutuhkan. Bahasa sederhananya, sedekah yang telah kita berikan tepat sasaran. Menyasar pada orang yang memang sangat membutuhkan.

    Sebaliknya, kalau kita tidak ikhlas, yang muncul bukan rasa bahagia, tapi penyesalan yang menyakitkan hati.

    Seandainya yang dilempar ke kolam oleh anak-anak itu bukan pelet melainkan uang koin, apakah mereka bisa senang? Saya yakin mereka akan menyesal setelah melempar koin-koin itu ke dalam kolam. Mengapa demikian? Pertama, tidak mungkin mereka bisa ikhlas membuang duit ke dalam kolam ikan kecuali anak itu belum paham pentingnya duit. Kedua, karena si penerima (ikan) tidak doyan duit. Tidak berebutan seperti ketika dilempari pelet.

    Ternyata memang pemberian yang tidak ikhlas itu tidak akan membuat kita senang. Atau suatu saat kita ikhlas memberi, namun orang yang kita beri tidak berminatdengan pemberian kita, maka hal ini pun tidak juga membuat hati kita senang.

    Oleh karena itu, supaya muncul perasaan senang, kudu sinkron antara pemberi dan penerima. Si Pemberi ikhlas menyerahkan barangnya dan si penerima merasa membutuhkannya.

    Kesimpulan

    Kita pasti akan mendapatkan kebahagiaan manakala kita mampu memberi dengan penuh keikhlasan. Sedekah tidak akan mengurangi harta dan kebahagiaan kita, tapi justru sebaliknya, akan menambah kebahagiaan.

    Dan sebagai seorang muslim, kita pasti yakin akan janji Allah Subhanhu Wa Ta’ala tentang balasan bagi orang-orang yang gemar bersedekah.

    Mari kita giatkan sedekah agar kehidupan kita bertambah berkah dan dipenuhi dengan sa’adah fie dunya wal akhiroh. Amiin.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here